7 Cara Hemat Uang dalam Rumah Tangga

cara hemat uang dalam rumah tangga
Sumber gambar: maxpixel.net

Tak terasa, tahu-tahu uang udah berkurang Rp500.000 aja. Tahu-tahu malah udah berkurang Rp1.000.000 aja. Tahu-tahu malah udah berkurang Rp2.000.000 aja. Nggak kerasa banget… 😣

Perasaan, dulu Rp50.000 atau Rp100.000 aja udah lumayan cukup buat beli banyak hal. Tapi, hari ini, rasanya semuanya semakin mahal. Akhirnya, duit pun cepat menipis…. 😫

Puncak bahayanya, apabila hal tersebut berimbas pada masalah Rumah tangga…. 😱

Nah, dalam taraf individu dan keluarga, bagaimana cara menghadapi hal tersebut?Β πŸ˜•

Tentunya, tidak lain dan tidak bukan, adalah tambah sumber pemasukan, dan usahakan berhemat.

Di artikel kali ini, kita akan coba bahas yang berhemat.Β πŸ‘Œ

Setidaknya, ada 7 cara berhemat yang bisa Anda lakukan. Berikut ini dia.Β πŸ™‚

1. Bedakan antara kebutuhan dan keinginan

Yes, it is. Bedakan antara kebutuhan dan keinginan. 😊

Kalau memang butuh; yang tanpa adanya itu jadinya kewajiban-kewajiban kita akan terlantarkan, maka keluarkanlah uang untuk hal-hal itu.

Kalau memang tanpa hal itu bisa mengakibatkan sakit, bahkan ekstrimnya kematian; maka keluarkanlah uang untuk hal-hal itu.

Tapi kalau tanpa itu nggak ada yang sakit, nggak ada yang mati, nggak ada kewajiban yang dilalaikan, maka bisa ditunda atau dilupakan saja. 😌

Biasanya sih, mohon maaf, keinginan itu berupa pakaian, aksesoris, makanan non-pokok, jalan-jalan.Β πŸ˜…

2. Tulis kira-kira apa saja yang harus dibeli dan dibayar dalam satu bulan

Ini penting. Serius. Ini pola suksesnya berhemat.

Ibarat saat naik kendaraan, pastinya kita sudah punya tujuan mau ke mana. Kalau nggak ada tujuan mau ke mana, yah aneh. Mau ngapain? Muter-muter nggak jelas doang?

Begitu pula bila kita pegang uang cash. Misalnya, ada Rp10.000.000. Nah, harus ditentukan, ini uang mau dipakai buat apa saja?

Kalau tidak, maka ia akan liar keluar untuk ini-itu. Hingga tak terasa, sudah tinggal Rp2.000.000. Padahal, masih banyak yang harus dibayar, yang notabene lebih dari Rp2.000.000…

Sudah begitu, barulah menyesal seharusnya kemarin nggak usah beli jam tangan, nggak usah beli gadget yang mahal-mahal banget, nggak usah banyak cemilan melulu…. 😰

Maka dari itu, coba tuliskan, kira-kira apa saja hal-hal prioritas yang perlu dibayarkan terlebih dahulu.

Misalnya, beras buat sebulan, proyeksi lauk dan sayur buat sebulan, biaya kontrakan Rumah, biaya listrik, biaya air, uang Sekolah anak, dan keperluang rumah tangga lainnya. Sisanya; buat saving, danΒ biaya tak terduga.

3. Jauhi kredit berbunga

Selain memang kredit berbunga merupakan hal yang tidak syar’i menurut Islam lantara riba, bahkan pada orang-orang yang sudah terlanjur menggunakannya pun, tidak efektif dan efisien. Tidak memiliki ilmu manejemennya. Sehingga, bukannya untung, tapi malah buntung.

Yang namanya kredit itu kan menunda pembayaran. Bukan berarti masalah selesai, tapi justru di situ baru mulai masalahnya. Yang lebih parahnya, ada bunganya pula. Jadi tingkat kesulitan masalahnya terus membesar dan membesar, tidak stagnan. 😱

Di samping miss-management, bisa saja sedikit/banyak ada faktor adzab ataupun istidraj yang kemudian membuat hidup kita menjadi susah. Na’udzubillahimindzalik. 😱

Dan tak jarang, banyak masalah rumah tangga, berawal dari kredit ber-riba seperti ini. 😱😱😱

Namun meski begitu kita tak boleh berputus asa, yang penting tetap semangat berusaha ta’at pada Allah.Β πŸ˜ŠπŸ‘Œ

4. Mending networking/silaturahmi dengan teman-teman yang positif

Tidak dipungkiri, banyak yang sadar dan ngaku, salah satu yang membuat pengeluaran membengkak adalah, karena bergaul dengan teman-teman hedonis. 😀

Barangkali kita sudah bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, kemudian bisa mengandalikan diri dari keinginan-keinginan. Namun, karena pergaulan, jadinya kita seperti terpaksa mengikuti mereka. Di saat mereka tak segan mengeluarkan uang untuk keinginan, maka kita malah jadi ikutan mengeluarkan uang untuk keinginan juga.Β πŸ€ͺ

Maka dari itu, ada baiknya Anda berusaha lebih memprioritaskan networking ataupun silaturahmi pada kenalan-kenalan yang positif. Seperti misalnya teman ngaji, teman jamaah dakwah, teman organisasi sosial, komunitas bisnis, dan lain-lainnya. 😊

Orang-orang yang positif seperti itu, normalnya punya pemahaman dan pengalaman yang cukup bijak pada banyak hal, termasuk persoalan harta. Kalau pun pengalaman belum terlalu konsisten dan hebat, yaa minimal punya pemahaman dulu lah. Otomatis punya niat. Jadi, bisa berusaha berhemat bareng-bareng. 😁

5. Minimalisir makan di luar

Normalnya, biaya makanan-makanan yang dijual di luar pasti lebih mahal dibandingkan kalau kita masak sendiri. 😜

Kalau saya pribadi punya pendapat, palingan makan di luar itu sesekali dalam beberapa bulan untuk menyenangi keluarga. Atau, kalau sedang menjamu tamu saja. Bukan terus-terusan dengan alasan kepingin yang enak aja. Apalagi karena gengsi, nyari-nyari tempat makan yang instagramable gitu. No way…. 😐

Silahkan kalau Anda mau adopsi pendapat tersebut. ☺

6. Minimalisir juga jajan cemilan di luar, mending bikin sendiri

Selain makan makanan besar, termasuk pula makan makanan ringan. Usahakan, buat sendiri saja di Rumah.

Seperti misalnya bakso, mie, roti, es krim; insyaAllah jauh lebih murah kalau bikin sendiri, dibandingkan jajan di luar. 😁

Dan biasanya, selain hemat, jauh lebih menyehatkan juga. 😚

7. Biasakan melakukan sesuatu sesuai keperluan dan tujuan, jangan jadikan gengsi sebagai tujuan

Poin nomor 7 ini merupakan salah satu yang sangat kerap terngiang-ngiang di kepala saya, setidaknya beberapa waktu belakangan ini. Karena memang ini pelajaran yang amat-sangat berharga bagi saya.Β πŸ™‚

Lakukan apapun dalam hidup ini, sesuai keperluan dan tujuan. 😊

Misal yang sederhana… kita mau sholat. Apa tujuan kita sholat? Apa keperluan kita sholat? Tentu, tujuan kita sholat, adalah untuk mendapatkan ridha Allah. Keperluannya, karena di Akhirat nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Maka, kalau seperti itu, kita akan sholat dengan sebaik-baiknya. Jangan sholatnya asal-asalan, bagusnya kalau sedang dilihat orang saja. Agak dilama-lamain kalau ada mertua, orang tua, atasan, dosen agama, dan sebagainya. Giliran nggak ada siapa-siapa, maka sholatnya asal-asalan.Β πŸ˜’

Seharusnya,Β  Yaaa kembali ke tujuan dan keperluan kita sebelumnya, apa? Apa? Yaa itu tadi, untuk Allah. Berarti, yang perlu kita lakukan adalah gimana agar sholat kita diterima oleh Allah, bukan gimana agar dianggap baik oleh manusia.Β πŸ™‚

Itu namanya gagal fokus, sudah melenceng dari keperluan dan tujuan.Β πŸ™„

Misal… kita mau posting sesuatu yang inspiratif di Instagram. Yasudah, posting saja. Jangan berharap banyak yang like, atau dilihat si do’i.

Kenapa gitu? Yaaa kembali ke tujuan dan keperluan kita sebelumnya, apa? Apa? Yaa itu tadi, untuk menginspirasi. Berarti, yang perlu kita lakukan adalah gimana agar postingan itu inspiratif, bukan gimana agar terpamerkan ke si do’i.

Kalau malah jadi pamer gitu, itu namanya gagal fokus, sudah melenceng dari keperluan dan tujuan.

Misal lainnya… kita ingin menyenangkan pasangan. Itu tujuan kita. Itu keperluan kita. Caranya, kita buat masakan yang enak untuknya.

Maka, apabila saat sedang berduaan dengan pasangan, kemudian dia merasa senang dengan masakan kita, yasudah, berarti sudah tercapai keperluan dan tujuannya. Nggak perlu mesti di-upload-upload ke social media supaya dibilang keren, tercitrakan hebat, berharap banyak yang like, dan sebagainya.

Kenapa gitu? Yaaa kembali ke tujuan dan keperluan kita sebelumnya, apa? Apa? Yaa itu tadi, untuk menyenangkan pasangan. Berarti, yang perlu kita lakukan adalah gimana agar pasangan kita senang, bukan pamer ke netizen.

Kalau malah jadi pamer gitu, itu namanya gagal fokus, sudah melenceng dari keperluan dan tujuan.

Begitulah….

Ntah kenapa, sepertinya zaman sekarang, terlalu banyak pencitraan dan gengsi yang jadi bawaan. Karena kapitalisme sih sebetulnya. Akhirnya, kita melakukan sesuatu yang berlebihan, menghabiskan energi dan uang lebih dari yang seharusnya difokuskan untuk apa yang memang perlu saja. Sesuai keperluan, sesuai tujuan.

Gengsi tak membuatmu kaya, tapi membuatmu sengsara
Sumber gambar facebook.com/JayaYEA/

Begitu pula persoalan cara menghemat uang dalam rumah tangga. Kita harus tentukan apa keperluan dan tujuan kita. πŸ™‚ Fokus ke situ. Uang kita, mesti kita alokasikan ke situ.

Jangan sampai kita malah mengerahkannya untuk hal-hal yang di luar keperluan dan tujuan.Β πŸ˜‚


Nah, setidaknya begitulah. Semoga bermanfaat dan benar-benar bisa membantu Anda untuk menghemat uang. 😊

Kira-kira, setelah membaca artikel ini, apa yang akan Anda mulai praktekkan nih..? 😁

  • Apa Anda mau mulai menulis keperluan sebulan?
  • Atau mau mulai kontak kenalan-kenalan yang positif dari sekarang?
  • Atau mulai coba biasain buat makanan sendiri di Rumah?

Berikan komentar Anda pada kolom komentar di bawah ini yaa. Yuk kita diskusikan.Β πŸ™‚

Kalau misalnya Anda sudah praktek dan menghadapi berbagai tantangan, atau masih belum praktek karena ada hal-hal yang kurang paham, jangan sungkan untuk berkomentar. InsyaAllah bisa kita bahas. 😊

YUK USAHAKAN ANAK KITA MENJADI SHOLEH & SEHAT, DAMBAAN KELUARGA & PERADABAN! 😊

Dapatkanlah konten-konten ilmu parenting Islami melalui email Anda!

Daftarkan email Anda pada Newsletter Syi’ir!