7 Keutamaan Menjadi Ibu Rumah Tangga

keutamaan menjadi ibu rumah tangga

Seorang pegiat feminis liberal, yang juga dikenal sebagai seorang plagiator muda, Afi Nihayah, membuat pernyataan tendesius menyikapi fenomena prostitusi artis.

Secara tersirat, ia merendahkan posisi ibu. Menurutnya, seorang ibu adalah murahan dibanding pelacur.

Ibu yang “hanya” menerima uang belanja Rp10 juta, namun tugasnya tak hanya melayani suami, juga merangkap sebagai baby sitter, tukang cuci, dll. Sementara seorang pelacur, hanya sekali melayani lelaki sekali dibayar Rp80 juta, sehingga value-nya dianggap lebih tinggi dari seorang Ibu.

Pernyataan ini jelas-jelas melecehkan institusi pernikahan dan merendahkan kemuliaan ibu. Sebuah jalan halal yang disyariatkan Allah SWT. Tugas ibu tidak bisa dinilai dengan uang berapa pun. Bayaran seorang ibu hanyalah Surga. Tidak ada seorang ibu hanyalah Surga. Tidak ada seorang pun di dunia ini, bos Perusahaan mana pun,  yang akan mampu membayar jasa seorang ibu.

Demikianlah Islam memuliakan derajat Ibu. Predikat istri dan ibu adalah kunci Surga.

Berikut di antaranya:

1. Bersuami adalah kunci Surga

Menikah adalah menjaga kesucian. Posisi istri pendamping suami adalah kunci Surga. “Jika seorang wanita selalu menjaga sholat 5 waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina), dan benar-benar ta’at pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulian ini, “Masuklah dalam Surga melaluii pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1:191 dan Ibnu Hibban 9:471)

2. Hamil adalah pahala besar

Ibu hamil, mendapatkan banyak pahala selama ia ridha dan ta’at pada Allah SWT.

Dua raka’at sholat wanita yang hamil, lebih baik dari 80 raka’at sholat wanita yang tidak hamil.

Pada siang hari, seorang ibu hamil mendapat pahala puasa, sedangkan di malam harinya ia mendapat pahala sholat. MasyaAllah.

3. Melahirkan, berpahala seperti jihad

Melahirkan adalah tugas suci seorang ibu yang juga menjadi kunci Surga. Pada saat persalinan, seorang ibu mendapat pahala 70 tahun sholat dan puasa. Sedangkan untuk kesakitan yang dialami, Allah mengganjar kesakitan satu urat dengan satu pahala haji. Jika seorang ibu meninggal dalam masa 40 hari setelah melahirkan, maka ia mati syahid.

“Syuhada’ (orang-orang mati syahid) yang selain terbunuh di jalan Allah itu ada tujuh:

  1. Korban wabah tha’un adalah syahid,
  2. Mati tenggelam adalah syahid,
  3. Penderita penyakit lambung (semacam liver) adalah syahid,
  4. mati karena penyakit perut adalah syahid,
  5. korban kebakaran adalah syahid,
  6. yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid,
  7. dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.”

(HR. Ahmad, Abu Dawud, Malik, dan al-nasai, juga Ibnu Majah. Berkata Syu’aib Al-Armauth: hadits shahih).

4. Menyusui imbalannya Surga

Seorang ibu yang menyusui anaknya mendapat satu pahala dari setiap tetes yang ia berikan pada anaknya. Jika seorang ibu memberi susu pada anaknya yang menangis, maka Allah mengganjarnya dengan pahala satu tahun sholat dan puasa.

Jika seorang ibu kewajibannya menyusui selama dua setengah tahun, maka malaikat di langit langsung menyebarkan berita bahwa Surga wajib baginyaa.

5. Begadangnya ibu setara membebaskan 20 budak

Semua itu pahala baginya, setara dengen membebaskan 20 budak.

Bahkan, tak hanya itu, ia akan diampunkan seluruh dosanya.

Jika ia menghibur anaknya yang sakit, Allah beri padanya pahala 12 tahun ibadah.

6. Mendidik anak adalah investasi akhirat

Ibu lah guru pertama dan utama bagi anak-anaknya. Pendidikan usia dini ada di tangannya. Hampir setiap saat dan setiap waktu, ibu memberi pembelajaran kehidupan.

Melalui sentuhan kasih sayangnya. Belaiannya. Ucapannya. Nasihatnya. Contoh perilakunya. Kedekatan ibu terhadap anak adalah pengajaran seumur hidup bagi anak.

7. Ibu sumber kasih sayang keluarga

Ibu adalah poros kasih sayang keluarga. Dia lah sumber cahaya kebahagiaan dalam Rumah Tangga.

  • Mengasuh dan memberi tanpa batas.
  • Selalu berjaga dan terjaga.
  • Menemani ketidakberdayaan anak dan bahkan suaminya.
  • Dia yang selalu mendahulukan anaknya dari pada dirinya sendiri.
  • Mencintai tanpa menuntut balas.

Demikianlah, kemudian posisi Ibu, yang jelas tidak akan dimiliki oleh seorang pelacur.

Kemuliaan yang tak akan didapatkan oleh seorang feminis yang memusuhi agama Islam, memusuhi syariat Allah SWT.

Semoga kaum ibu terjauh dari opini menyesatkan kaum feminis liberal.[]kholda

Refrensi: MU Edisi 235. Base title: “Menjadi Orang Tua Bahagia”.