9 Cara Mengatasi Anak yang Keras Kepala, dan Meredam Emosinya

Apakah Anda merasa ntah kenapa sepertinya anak Anda sulit sekali diatur? Tidak mau menurut bila dikasih tahu? Sangat keras kepala, bahkan emosinya meluap-luap?

Namun Anda bingung bagaimana cara menghadapinya keras kepalanya dan meredam emosinya?

Pada waktu ibu ingin membuat anaknya terikat dengan beberapa kaedah tingkah laku yang dikehendaki, anak akan berupaya menguatkan independensi dari ibunya dan membebaskan diri untuk tidak tunduk kepada ibunya.

Dari sini, akan terjadi benturan antara ibu dengan anak.

Masalah ini adalah masalah yang niscaya terjadi, dan tidak mungkin dihindari.

Tanda-tanda pertama terjadinya benturan adalah, anak mengatakan kata “tidak” saat ibu meminta atau menyuruh sesuatu.

Kada kala proses itu akan segera berubah menjadi teriakan, membanting diri, atau menggigit anggota tubuhnya sendiri (semisal tangan), menendang-nendang atau memukul-mukul tanah dengan kepalan tangan. Kadang kala juga anak akan mengurung diri.

Hal itu karena ia merasa bahwa dia adalah pusat dunia, dan bahwa ibunya menganggap remeh untuk merealisasi kepentingannya.

Pada saat yang sama, anak ingin bebas dari ibunya dan tidak bersandar kepada ibunya.

Seiring dengan itu, ibunya justru melarang dia dari banyak hal yang ia sukai.

Ketika ia (si anak) tidak bisa memaksa ibunya untuk memenuhi apa yang ia inginkan, maka ia akan segera mengambil sikap marah, berteriak, dan menangis.

Ibu harus menganggap itu sebagai suatu yang wajar. Itu adalah salah satu tahap dari tahapan pertumbuhannya.

Ibu harus mulai meminimalkan terjadinya ledakan dengan mengikuti hal-hal berikut:

1. Minta dengan ramah, dan berterima kasih atas bantuannya

Ketika meminta anak melakukan suatu aktivitas, hendaknya menyerunya dengan suara yang lembut, penuh kasih, dan sayang, dan hendaknya di awalnya menggunakan redaksi meminta atau menyeru, seperti dengan mengatakan:

  • “Tolong…”
  • “Maukah kamu…”
  • “Anakku sayang..”.

Ketika anak memenuhi permintaan itu hendaknya katakan kepadanya:

  • “Terima kasih”
  • “Semoga Allah membalas kebaikan untukmu Nak”
  • “Semoga Allah meridhaimu Sayang”.

Jangan pelit untuk memujinya ketika anak menunjukkan tingkal laku yang baik.

2. Sesuaikan permintaan dan suruhan dengan kapasitasnya

Hendaknya ibu meminimalkan tekanan kepadanya.

Jangan menyuruh anak melakukan sesuatu yang tidak mampu dipenuhinya atau tidak mampu dilakukan.

Kadang kala anak tidak bisa memahami perintah yang diberikan kepadanya.

3. Jangan langsung baper ketiak anak tidak mau menurut

Hendaknya ibu tidak berlebihan dalam bereaksi ketika anak mengatakan kepadanya kata “tidak”. Karena anak kadang kala mengatakannya secara spontan tanpa memikirkan lebih dahulu atau tanpa bermaksud seperti itu.

Jika anak menolak permintaan, jangan hukum anak secara langsung. Akan tetapi, tetap tenang dan ulangi permintaan yang sama dengan redaksi perintah.

Yaitu jika ibu pada awalnya meminta anak dengan cara lembut dan halus seperti ibu mengatakan kepada anak “Tolong tutup pintunya ya!”, (jika anak menolak) ulangi kedua kalinya dengan nada perintah, bukan hanya permintaan “Tutup pintunya!”, tanpa komentar dan pernyataan. Masalah ini akan dibicarakan nanti di belakang pada artikel lainnya, insyaAllah.

4. Klasifikasikan apa yang sangat penting, cukup penting, agak penting, dan tidak begitu penting

Hendaknya ibu memilih dengan penuh perhatian konteks interaksi dia dengan anaknya dan jangan mendorong terjadinya ledakan emosi si anak. Jika anak menolak memenuhi perintah ibu yang kurang penting, maka hendaknya ibu menutup mata saja.

Sedangkan jika anak menolak untuk memenuhi perintah yang penting, maka ibu harus memaksa anak menaatinya.

5. Pemaksaan hanya boleh dilakukan pada hal yang memang wajib, urgen, dan penting

Ibu hendaknya tidak memberikan pilihan jika memang ia tidak menghendaki sikap pilihan.

Jika anak menampakkan keinginannya untuk tetap berada di jalan, di luar Rumah, atau anak menolak pergi tidur pada waktunya, atau menolak ke kamar mandi padajjal ia memerlukan itu; maka semua masalah itu tidak boleh ada tawar-menawar.

Jika anak bersikap kooperatif dalam hal-hal seperti itu, ia tidak layak mendapat reward. Karena, pemberian reward kepada anak supaya memenuhi perintah ibu dalam kondisi semisal itu justru akan semakin mendorong anak untuk menentangnya.

6. Biarkan ia memilih, namun tetap batasi pilihannya

Ibu hendaknya memberikan pilihan yang terbatas kepada anaknya jika itu dimungkinkan, misalnya memberi pilihan anak untuk memakai pakaian dari 2 atau 3 pilihan baju yang sudah dipilihkan ibu, atau memberi kesempatan anak untuk memilih mainan yang diinginkannya.

Pilihan itu berarti adanya kemerdekaan diri dan akan semakin mendorong anak memenuhi seruan ibunya.

7. Perhatikan pola pemicu kerewelan anak, jauhi pola tersebut

Ibu hendaknya menjauhkan anaknya dari sikap-sikap yang bisa membangkitkan kemarahan anak.

Jika ibu sudah tahu anaknya mudah terpancing emosinya di Pasar atau di Tempat Umum, maka jangan bawa serta anak dan biarkan tetap di Rumah. Hendaknya ibu pergi tanpa dilihat oleh si anak.

8. Apresiasilah bila tingkah lakunya baik

Ibu hendaknya memberikan reward atau tingkah laku baik yang dilakukan oleh anaknya dan semakin memperhatikan serta memberikan pujian kepada anaknya.

9. Tetap sabar, jangan gunakan kekerasan, biarkan dia menyendiri sementara

Jika terjadi ledakan perasaan (emosi) meski sudah ditempuh berbagai sarana untuk mencegahnya maka ibu harus menggunakan cara menyepikannya (mengasingkannya) dengan jalan menempatkan anak di tempat tertentu untuk jangka waktu pendek. Masalah ini akan dibicarakan kemudian di lain artikel, insyaAllah.

Jika terjadi ledakan emosi di jalan, ibu harus tetap tenang, jangan memukulnya, jangan membentaknya. Karena jika begitu anak justru akan semakin emosional anak dan beteriak.

Hendaknya ibu membawa anaknya itu ke tempat yang jauh dari orang banyak dan menenangkannya dengan mendekapnya dan menyerunya dengan suara lembut, seraya mencari tahu apa yang membuat anaknya marah.


Refrensi: As-Sabatin, Najah. 2013. Dasar-Dasar Mendidik Anak (Usia 1 – 10 Tahun). Bogor: Al-Azhar Freshzone Publishing.